Pusat Terapi Anak
Poling
Apakah Situs ini Bermanfaat bagi Anda?
 

Pendidikan

Pra Sekolah Khusus

Pra Sekolah

Program ini dipersiapkan bagi anak-anak spesial sebelum mereka memasuki sekolah biasa pada umumnya. Tujuannya sederhana, agar mereka bisa bersosialisasi dan belajar seperti teman-teman sekolahnya. Anak-anak spesial, tentu tidak bisa langsung masuk dan bersosialisasi dengan anak lainnya. Tugas kamilah membantu mempersiapkan permata hati anda menuju ke sekolah umum.

STIMULASI YANG DIPERLUKAN BAGI ANAK-ANAK DENGAN KEBUTUHAN KHUSUS DALAM MEMASUKI DUNIA SEKOLAH

Bila dilihat dari gambaran umum pendidikan di prasekolah dan sekolah dasar bagi anak-anak sesuai tingkatan perkembangannya, pada anak-anak dengan kebutuhan khusus terdapat beberapa perbedaan. Dari usia, umumnya anak-anak dengan kebutuhan khusus mulai sekolah lebih lambat dari anak-anak seusianya sebagai akibat dari keterlambatan kematangan pencapaian aspek-aspek yang dituntut pada usia perkembangan mereka. Disamping itu, hambatan yang dimiliki anak membuat mereka sulit untuk memenuhi tugas perkembangannya dan membuat mereka harus memilih sekolah khusus yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Meskipun demikian, stimulasi dari orangua maupun terapis tetap diperlukan agar anak lebih siap memasuki duni sekolah. Berikut ini stimulasi-stimulasi yang diperlukan berdasarkan tuntutan yang harus dicapai anak di sekolah. Tingkatan stimulasi tersebut makin bertambah sesuai dengan peningkatan jenjang pendidikan anak.

1.    Kesadaran akan lingkungan
Sekolah merupakan agen sosial lain di luar keluarga. Oleh karena itu, anak perlu mengembangkan kesadarannya mengenai lingkungan. Dalam membantu mengembangkan kesadaran akan lingkungan ini orangtua dapat memulainya dengan mengajak anak mengenali anggota keluarga/orang-orang yang ada di rumah terlebih dahulu, apa yang sedang mereka kerjakan dan apa pula yang harus mereka lakukan menghadapi anggota-anggota keluarga yang sedang melakukan aktivitas tersebut. Anak pun dapat diajak untuk mencari tahu apa yang dilakukan anak-anak lain di sekitar rumah, tamu yang datang maupun perubahan-perubahan yang terjadi di rumah.

2.    Pemahaman terhadap aturan dan rutinitas

Aturan perlu diterapkan mulai dari yang sederhana terlebih dahulu. Ketika anak memasuki usia pra sekolah, pada dasarnya anak-anak sudah dapat dikenalkan pada aturan. Namun untuk mengembangkan pemahaman mereka, aturan haruslah kongkrit, dimulai dari kebiasaan sehari-hari, disertai contoh dan diterapkan secara konsisten. Aturan-aturan yang diterapkan secara konsisten akan membentuk suatu rutinitas yang akan membantu pengorganisasian diri anak. Kepatuhan perlu menjadi perhatian karena berkaitan pula dengan pemahaman anak terhadap lingkungannya dan kemampuan anak untuk menjalankan instruksi di sekolah nantinya.

3.    Pemahaman terhadap instruksi

Pemahaman terhadap instruksi berkaitan dengan keterampilan anak untuk berkomunikasi dan mamahami ujaran orang lain (bahasa reseptif). Hal ini dapat dilakukan oleh orangtua dengan memberikan label dan disertai contoh dari kegiatan yang dilakukan anak. Misalnya: letakkan sepatumu di rak sepatu. Dengan contoh perilaku meletakkan sepatu tersebut, label secara lisan mengenai perilaku tersebut perlu dilakukan. Penggunaan gambar juga sangat membantu. Pemahaman anak terhadap instruksi ini akan berkaitan pula dengan pemahaman anak terhadap aturan di sekolah nantinya.

4.    Kemandirian

Secara bertahap anak mulai diajarkan untuk melakukan kegiatan-kegiatan harian sendiri seperti mengembalikan tas atau sepatu ke tempatnya, mandi atau makan sendiri. Kemandirian dalam melakukan kegiatan-kegiatan harian sederhana yang umumnya harus dilakukan anak di sekolah yaitu berkaitan dengan mengembalikan barang-barang miliknya ke loker maupun tas, makan dan mengganti baju sendiri. Oleh karena itu, kegiatan-kegiatan tersebut harus sudah mulai dikenalkan kepada anak. Meskipun anak menggunakan guru pendamping di sekolah, tugas guru pendamping pada dasarnya hanya membantu anak memberikan prompt  mengenai apa yang harus dilakukannya bukan melakukan apa yang seharusnya dikerjakan anak.

5.    Keterampilan pra-akademik
Keterampilan pra-akademik umumnya berkaitan dengan kemampuan anak dalam melakukan koordinasi motorik kasar maupun halus. Secara teknis, orangtua dapat mengembangkannya dengan bantuan terapis. Namun dalam kegiatan harian di rumah, orangtua dapat melakukannya melalui kegiatan bermain seperti lempar tangkap bola, menyusun balok-balok, menelusuri garis di pasir pantai maupun kegiatan-kegiatan permainan lain. Perlu diingat, kegiatan yang telah dilakukan di tempat terapi perlu dilakukan ulang di rumah.

 

 
Peduli Autis
Tumbuh Kembang