Pusat Terapi Anak
Poling
Apakah Situs ini Bermanfaat bagi Anda?
 

Autis

Infeksi Tak Terkait Autisme

AARHUS, KOMPAS.com — Infeksi yang terjadi di masa balita tidak terkait dengan munculnya autisme. Demikian menurut hasil analisis terhadap 1,4 juta anak yang lahir di Denmark antara tahun 1980 dan 2002.

Para peneliti membandingkan data tersebut dengan data anak-anak yang dirujuk ke klinik tumbuh kembang dan kemudian didiagnosis menderita autisme. Pada anak-anak itu, hampir 7.400 anak didiagnosis menderita autis.

Anak-anak yang mengalami infeksi penyakit, baik karena bakteri maupun virus, cenderung mendapat diagnosis autis. Akan tetapi, anak-anak yang tidak terkena infeksi justru lebih banyak yang terdiagnosis autis dibanding anak yang tidak pernah sakit infeksi. Itu sebabnya para peneliti menyimpulkan tidak ada kaitan antara infeksi dan spektrum autisme.

"Kami menemukan kaitan yang sama antara anak yang dirawat di rumah sakit karena berbagai sebab dengan autisme. Bila memang ada kaitan yang khusus, seharusnya muncul penyebab infeksi yang spesifik," kata Dr Hjordis Osk Atladottir, peneliti dari Institute of Public Health University of Aarhus, Denmark.

Studi sebelumnya menyebutkan, anak-anak autis cenderung memiliki sistem imun yang abnormal sehingga muncul teori bahwa autisme mungkin dipicu oleh infeksi. Sebagian orangtua yang anaknya menderita autis juga melaporkan anaknya lebih sering sakit.

Namun, para ahli menegaskan bahwa di samping lebih rentan terkena infeksi telinga dan pernapasan dibanding anak normal, sebenarnya tidak ada kaitan antara autisme dan infeksi. Para orangtua juga diminta tidak percaya pada mitos yang menyebutkan autis muncul setelah anak terinfeksi meningitis atau radang otak.

Ada banyak alasan mengapa anak yang autis lebih sering mendapat perawatan medis karena infeksi. Misalnya saja karena masalah pencernaan, anak-anak autis memang memiliki pencernaan yang bermasalah. Mungkin juga karena orangtua mereka lebih khawatir pada tumbuh kembang anaknya sehingga lebih sering mencari pengobatan.

 

Ciri-ciri Anak Autis

Anak autis dapat dikenali dengan ciri-ciri sebagai berikut :

1. Sulit bersosialisasi dengan anak-anak lainnya
2. Tertawa atau tergelak tidak pada tempatnya
3. Tidak pernah atau jarang sekali kontak mata
4. Tidak peka terhadap rasa sakit
5. Lebih suka menyendiri; sifatnya agak menjauhkan diri.
6. Suka benda-benda yang berputar / memutarkan benda
7. Ketertarikan pada satu benda secara berlebihan
8. Hiperaktif/melakukan kegiatan fisik secara berlebihan atau malah tidak melakukan apapun (terlalu pendiam)
9. Kesulitan dalam mengutarakan kebutuhannya; suka menggunakan isyarat atau menunjuk dengan tangan daripada kata-kata
10. Menuntut hal yang sama; menentang perubahan atas hal-hal yang bersifat rutin
11. Tidak peduli bahaya
12. Menekuni permainan dengan cara aneh dalam waktu lama
13. Echolalia (mengulangi kata atau kalimat, tidak berbahasa biasa)
14. Tidak suka dipeluk (disayang) atau menyayangi
15. Tidak tanggap terhadap isyarat kata-kata; bersikap seperti orang tuli
16. Tidak berminat terhadap metode pengajaran yang biasa
17. Tentrums – suka mengamuk/memperlihatkan kesedihan tanpa alasan yang jelas
18. Kecakapan motorik kasar/motorik halus yang seimbang (seperti tidak mau menendang bola namun dapat menumpuk balok-balok)
Anak-anak penyandang spektrum autisme biasanya memperlihatkan setidaknya setengah dari daftar tanda-tanda yang disebutkan di atas. Gejala-gejala autisme dapat berkisar dari ringan hingga berat dan intensitasnya berbeda antara masing-masing individu. Ini hanya sekedar gambaran ciri-ciri, namun untuk lebih jelasnya, sebaiknya hubungi ahli dalam perkembangan anak dan mendalami bidang autisme.

Child Care Center, pusat terapi tumbuh kembang anak selalu siap membantu anda dengan melakukan assessment pada permata hati anda secara gratis.

 

Deteksi Autis

Mendeteksi Anak Autis

Bila gejala autisme dapat dideteksi sejak dini serta dilakukan penanganan yang tepat dan intensif, kita dapat membantu anak autis untuk berkembang secara optimal.
Deteksi autis dapat dilakukan dengan metode yang dinamakan M-CHAT (Modified Checklist for Autism in Toddlers). Berikut adalah pertanyaan penting bagi orangtua:
1. Apakah anak anda tertarik pada anak-anak lain?
2. Apakah anak anda dapat menunjuk untuk memberitahu ketertarikannya pada sesuatu?
3. Apakah anak anda pernah membawa suatu benda untuk diperlihatkan pada orangtua?
4. Apakah anak anda dapat meniru tingkah laku anda?
5. Apakah anak anda berespon bila dipanggil namanya?
6. Bila anda menunjuk mainan dari jarak jauh, apakah anak anda akan melihat ke arah mainan tersebut?

Bila jawaban anda TIDAK pada 2 pertanyaan atau lebih, maka sebaiknya berkonsultasi dengan profesional yang ahli dalam perkembangan anak dan mendalami bidang autisme dan jangan menunda memberikan terapi pada anak autis.
Child Care Center siap membantu anda dan permata hati anda dengan memberikan terapi yang tepat bagi kebutuhan permata hati anda.

 

Autisme

Gangguan autisme

Autisme adalah gangguan perkembangan yang sangat kompleks pada anak, yang gejalanya sudah timbul sebelum anak itu mencapai usia tiga tahun.
Penyebab autisme adalah gangguan neurobiologis yang mempengaruhi fungsi otak sedemikian rupa sehingga anak tidak mampu berinteraksi dan berkomunikasi dengan dunia luar secara efektif.
Gejala yang sangat menonjol adalah sikap anak yang cenderung tidak mempedulikan lingkungan dan orang-orang di sekitarnya, seolah menolak berkomunikasi dan berinteraksi, serta seakan hidup dalam dunianya sendiri. Anak autistik juga mengalami kesulitan dalam memahami bahasa dan berkomunikasi secara verbal.
Disamping itu seringkali (prilaku stimulasi diri) seperti berputar-putar, mengepak-ngepakan tangan seperti sayap, berjalan berjinjit dan lain sebagainya.
Gejala autisme sangat bervariasi. Sebagian anak berperilaku hiperaktif dan agresif atau menyakiti diri, tapi ada pula yang pasif. Mereka cenderung sangat sulit mengendalikan emosinya dan sering tempertantrum (menangis dan mengamuk). Kadang-kadang mereka menangis, tertawa atau marah-marah tanpa sebab yang jelas.
Selain berbeda dalam jenis gejalanya, intensitas gejala autisme juga berbeda-beda, dari sangat ringan sampai sangat berat.
Oleh karena banyaknya perbedaan-perbedaan tersebut di antara masing-masing individu, maka saat ini gangguan perkembangan ini lebih sering dikenal sebagai Autistic Spectrum Disorder (ASD) atau Gangguan Spektrum Autistik (GSA).
Autisme dapat terjadi pada siapa saja, tanpa membedakan warna kulit, status sosial ekonomi maupun pendidikan seseorang.
Tidak semua individu ASD/GSA memiliki IQ yang rendah. Sebagian dari mereka dapat mencapai pendidikan di perguruan tinggi. Bahkan ada pula yang memiliki kemampuan luar biasa di bidang tertentu (musik, matematika, menggambar).
Prevalensi autisme menigkat dengan sangat mengkhawatirkan dari tahun ke tahun. Menurut Autism Research Institute di San Diego, jumlah individu autistik pada tahun 1987 diperkirakan 1:5000 anak. Jumlah ini meningkat dengan sangat pesat dan pada tahun 2005 sudah menjadi 1:160 anak. Di Indonesia belum ada data yang akurat oleh karena belum ada pusat registrasi untuk autisme. Namun diperkirakan angka di Indonesia pun mendekati angka di atas. Autisme lebih banyak terjadi pada pria daripada wanita, dengan perbandingan 4:1

 
Peduli Autis
Tumbuh Kembang