Pusat Terapi Anak
Poling
Apakah Situs ini Bermanfaat bagi Anda?
 

Empat Siswa Autis Mampu Lulus Ujian Nasional

Melihat Pelepasan SDS Bina Anak Bangsa

Mungkin dulu tidak pernah terpikir bahwa anak autis dapat mengenyam pendidikan seperti anak normal. Bukan karena mereka tidak pintar atau mengalami ganguan, tapi kebanyakan dari anak autis memiliki dunia sendiri. Itu yang membuat mereka sulit berbaur dengan anak lain seusia mereka, serta sulit menerima pembelajaran seperti sekolah umum.

SABTU, 26 Juni 2010, menjadi momen tidak terlupakan bagi orangtua Jose Rizky Maharani, Satrio Hasrinanda, Muhammad Yusuf Isnaini, dan Andreas Dipa Makayasa, termasuk pada guru mereka di SDS Bina Anak Bangsa, Jalan Pak Benceng. Rizky, Satrio, Yusuf, dan Andreas diumumkan lulus Ujian Akhis Sekolah Berbasis Nasional olah pihak sekolah.
Bisa jadi mereka tidak pernah menyangka, anaknya akan lulus sekolah umum, karena anak-anak itu autis. Para orangtua yang tidak memiliki pemahaman cukup menyerah diawal, ketika mengetahui anaknya autis. Ada pula orangtua yang bercerai karena itu. Atau ibu yang sebelum bekerja harus meninggalkan pekerjaannya karena kondisi anak mereka.
Autis memang bukan penyakit, tapi orangtua yang memiliki anak autis harus memberikan berkali-kali lipat perhatian mereka para anak. Tidak salah jika dikatakan anak autis adalah anak berkebutuhan khusus. Orangtua harus memberikan perhatian lebih ekstra untuk dapat memahami dunia milik anaknya.Hal ini sangat dipahami Adiswar, ketua Lembaga Bina Anak Bangsa. Ia mendirikan lembaga itu dari pengalaman pribadi, karena memiliki anak autis. Melalui bebagai terapi dan perhatian penuh bersama istri, anaknya bisa menamatkan SD dan melanjut ke SMP.
Sekitar 2004, Adiswar membangun lembaga itu. Ia tahu, di Pontianak tidak ada lembaga khusus yang menangani anak-anak autis. Anak-anak autis yang melewati konseling individu, masuk ke sekolah khusus, setelah itu jika dilihat memungkinkan dimasukkan ke sekolah umum.“Saya coba terapkan, sistem pendidikan anak autis yang saya dapat dari sekolah di Jawa. Disana sudah sangat banyak lembaga seperti ini. Sehingga anak autis bisa juga mengenyam pendidikan formal,” katanya.Samsul Bahari, kepala SDS Bina Anak Bangsa menyampaikan, empat siswa mereka yang lulus UASBN itu mengikuti ujian di SDN 36 Jalan Dr Sutomo. Itu pertama kali siswa mereka diikutkan UASBN, karenanya empat anak itu ujian di satu ruang terpisah dan diawasi sistem yang berlaku. Itupun sebab pihak sekolah masih khawatir jika konsentrasi anak-anak itu pecah karena ruangan yang ramai.
“Meski bukan yang terbaik, tapi nilai rata-rata UASBN mereka cukup baik. Hasilnya bukan yang terendah di Pontianak,” ujarnya.Sebelum anak-anak itu melakukan UASBN, pihak sekolah banyak melakukan koordinasi dengan orangtua, dinas pendidikan, dan para guru. Pihak sekolah sadar, tidak bisa berjalan sendiri. Latihan pun dilakukan berkali-kali, terutama cara mengikuti ujian dan mengisi lembar jawaban. Persiapannya sekitar empat bulan. “Try out dari Dinas Pendidikan empat kali, kalau dari sekolah sudah berkali-kali,” katanya.
Adiswar menyatakan kembali, proses belajar yang diterapkan pada anak-anak mereka tidak kaku. Para guru diminta melihat kebutuhan anak, terkadang mengunakan pendekatan secara individu, terkadang pula secara umum. “Di sini kita tetap menerapkan kurikulum umum,” ujarnya.Kegiatan dihadiri Ketua Komisi D DPRD Kota Pontianak Nanang Setiabudi, Ketua Ikatan Orangtua Anak Penyandang Autis, para guru dan orangtua, seluruh siswa SDS Bina Anak Bangsa. Penampilan para siswa SD mampu menggugah hati para udangan, termasuk Nanang. Ia berharap, dapat memasukkan bantuan pendanaan untuk lembaga dalam APBD. (*/r)

Sumber: Pontianak Pos

 
Peduli Autis
Tumbuh Kembang