Menangani Autisme Tanpa Obat
Menangani Autisme Tanpa Obat
Siapa bilang anak dengan gangguan autisme tidak bisa baik? Kuncinya ada pada penanganan dan pendidikan, baik dalam keluarga maupun sekolah.
SEORANG ibu menulis dalam sebuah forum daring. Ia mempertanya kan bagaimana harus menghadapi anaknya yang didiagnosis mengalami gangguan autisme sejak usia 4 tahun. Kini anaknya berusia 14 tahun dan sudah menjalani beragam terapi di berbagai klinik, sekolah luar biasa, sampai tempat berobat alternatif. Dalam tulisannya, ia menguraikan perilaku anaknya yang suka merusak barang. Mengetuk alat pendingin ruangan dengan palu, menusuk pesawat televisi dengan obeng, sampai merontaronta di lantai jika keinginannya tidak terpenuhi. Pada akhir tulisannya, si ibu menanyakan para anggota forum, "Apakah ada yang mengetahui di mana ada asrama untuk anak-anak autis? Saya ingin memasukkan anak saya supaya dia disiplin." Beberapa orang mungkin jadi pilu mendengar pertanyaan itu. Autisme bukanlah gangguan menular, jadi si anak tak perlu disingkirkan--atau setidaknya begitulah yang dikesankan. Meskipun sering kita dengar, bahkan kita temui, belum ada yang tahu apa sesungguhnya penyebab gangguan autisme pada anak-anak. Yang jelas, angka kejadian autisme meningkat pesat. Saat ini, autisme ditemukan pada 6 atau 7 dari 1.000 anak. Bahkan ada laporan yang menyebut, autisme terjadi pada 1 atau 2 dari 100 anak. Dari pengalamannya menangani autisme, dokter spesialis anak Hardiono D Pusponegoro menyimpulkan banyak anak dengan gangguan autisme membaik.“Kalau dulu, orang berpikir anak autis enggak bisa baik. Sekarang kebanyakan membaik kok,” ujarnya seusai jumpa pers bertema Autism Now! di Jakarta, beberapa waktu lalu. Kuncinya, ditekankan Hardiono, ada pada deteksi dini dan pendidikan sebagai bagian dari intervensi alias terapi. tutur Hardiono. Sumber informasi dan konsultasi begitu terbuka untuk dijajaki para orang tua guna menentukan cara membina anak dengan gangguan autisme. Hardiono menegaskan, sebagian besar pasien anak dengan autisme tidak memerlukan obat.
“Yang dibutuhkan adalah terapi dan edukasi yang baik. Makin cepat diagnosis dan terapinya, makin baik hasilnya,” jelasnya. Terapi obat medis hanya diberikan untuk perilaku yang agresif, seperti menyakiti diri sendiri, gangguan tidur serta mengalami penyakit lain seperti kejang dan epilepsi.Tiga bulan Pendidikan untuk anak de ngan gangguan autisme, dituturkan Hardiono, pada dasarnya bertujuan membina anak agar dapat mandiri. “Targetnya, anak-anak ini bisa bersekolah biasa, hidup normal,” jelasnya.
Jadi bukan untuk menyingkirkannya dari keluarga untuk diserahkan sepenuhnya kepada sekolah, klinik, atau asrama. Beberapa anak dengan gangguan autisme masih bisa bergabung dengan anak-anak lain di sekolah biasa, tapi beberapa memang membutuhkan pendidikan peralihan untuk dapat ditentukan apakah dia dapat mengikuti pelajaran dan pergaulan di sekolah biasa. Pendiri sekolah untuk anak berkebutuhan khusus Kits4Kids, Eric Lim, menyatakan pendekatan paling tepat untuk pendidikan anak berkebutuhan khusus bukan lagi terfokus pada si anak sendiri, melainkan fokus pada keluarga. Oleh karena itu, dalam pendidikan di sekolah pun, orang tua idealnya berperan aktif, tak sekadar menitipkan anak kepada para guru. Hardiono juga berujar, orang tua harus tetap mengetahui apa yang dilakukan anak dalam kelas terapi. Orang tua tidak bisa menyerahkan sepenuhnya kepada terapis di klinik. "Jangan sampai terapi terusterusan tanpa ada kemajuan yang jelas," serunya.Orang tua harus dapat menemukan kemajuan pada anak. "Apa saja bentuknya, kontak mata, mulai bicara, atau perilaku yang lebih tenang. Kalau dalam tiga bulan enggak ada kemajuan, harus segera cari cara lain," tegas Hardiono. (M-1)
Sumber: Media Indonesia
miweekend@ mediaindonesia.com



