Memadukan Pendidikan dan Keikhlasan Orang Tua
Memadukan Pendidikan dan Keikhlasan Orang Tua
BERBAGAI model pendidikan untuk anak autis memang sudah berkembang. Beberapa yang diterapkan di Tanah Air seperti discrete trial training dari Lovaas dan learning experience and alternative program for preschooler and parents (LEAP).
Kendati demikian, menurut Tati Ningsih dari Lembaga Child Care Centre, semua pendidikan inklusi untuk anak autis akan berhasil jika keluarga mengambil peran lebih besar.
“Syarat utamanya adalah pihak keluarga harus menerima apa adanya dan memberikan dukungan yang kuat untuk kesembuhan anaknya,” kata Tati.
Sebab, menurut dia, sekitar 60% anak autis terkait dengan aspek psikologi, selebihnya pengaruh motorik dan akademik.
Lebih penting lagi, seorang terapis ataupun psikolog yang menangani anak autis harus memiliki rasa ikhlas dan bisa menyinergikan program pendidikan di kelas (khusus) dengan orang tuanya.
Eric Lim dari Kits4Kids menambahkan tujuan utama memberikan pendidikan khusus pada anak autis ialah menumbuhkan kemandirian. Biasanya anak autis memiliki potensi yang kuat bahkan beberapa memiliki tingkat kecerdasan melebihi rata-rata. "Kita cuma harus mengetahui dia tertarik pada apa, jadi kita sesuaikan cara mendidiknya," ujar Eric.
Karena itu, pendidikan bagi anak penyandang autis akan baik lewat hubungan antara guru dan siswa yang lebih personal. Perbandingan keduanya di Kits4Kids adalah satu guru mengajar empat siswa. Metode perencanaan pendidikan lebih bersifat individual dan disusun untuk tiap-tiap anak.
Beberapa gangguan yang menyertai anak autis dan perlu dipantau terus baik oleh terapis maupun orang tuanya ialah masalah komunikasi, interaksi sosial, gangguan sensoris, pola bermain, perilaku dan emosi.
Anak autis yang telah diterapi dengan baik akan memperlihatkan perubahan seperti dapat mengendalikan perilaku sehingga tampak normal, berkomunikasi dan berbicara normal, serta berwawasan akademik yang sesuai anak seusianya.
Pada kondisi seperti itu, anak sebaiknya mulai diperkenalkan untuk masuk ke dalam kelompok anak-anak normal.
Diharapkan, dari sini anak autis bisa meniru (imitating), mempunyai fi gur (role) model anak normal, dan meniru tingkah anak seusianya. (Wey/*/M-1)
Sumber: Media Indonesia


