Tuna Rungu, Jangan Rendah Diri
Tuna Rungu, Jangan Rendah Diri
MALANG - Para penderita tuna rungu (profound) sebaiknya memegang prinsip; jangan rendah diri. Rasa percaya diri harus terus tertanam. Sebab dengan rasa percaya diri itu, akan muncul motivasi untuk sembuh dan normal.
Begitu salah satu pesan Shafa Khusnul Khatimah, 18, gadis sukses mendengar dan berbicara setelah menjalani terapi sejak bayi. Padahal sejak kecil, gadis kelahiran Bandung, 20 Juni 1991 itu sudah divonis tuna rungu.
Bukan hanya sukses mendengar dan berbicara, Shafa juga menunjukkan prestasi terbaik di sekolah sejak SD hingga SMA di Bandung. Prestasi akademiknya mengalahkan rekan-rekannya yang normal. "Saya selalu percaya diri (PD) meski dengan kondisi tuan rungu sejak SD. Saya berusaha terus untuk bisa mendengar dan berbicara. Karena saya ingin bisa ngobrol dengan asyik seperti teman-teman lain," ungkap Shafa dalam talkshow Bincang Bijak Bersama Shafa di Perpustakaan Kota Malang, pagi kemarin.
Talkshow yang diselenggarakan oleh "Rumah Bermain Kak Dea" itu sengaja menghadirkan Shafa untuk memberi semangat kepada para penderita tuna rungu di Kota Malang. Ada ratusan anak yang kini masih dalam tahap proses terapi untuk bisa mendengar dan berbicara. Puluhan anak tuna rungu juga dihadirkan untuk ikut talkshow itu dengan didampingi orang tuanya masing-masing.
Kehadiran Shafa yang sudah mengeluarkan sebuah buku berjudul "Saatnya Tuna Rungu Bicara" itu diharapkan bisa menjadi inspirasi bagi anak-anak penderita tuna rungu itu. Sebab, Shafa yang tuna rungu sejak bayi bisa mendengar dan berbicara setelah duduk di bangku SMP.
Proses yang dijalani Shafa untuk bisa mendengar dan bicara memang sangat berat. Ketelatenan luar biasa yang dilakukan ibunya, Khoriyatul Jannah dalam membimbing selama bertahun-tahun menjadikan Shafa tegar. Khoriyatul juga cukup disiplin memberikan terapi pada Shafa agar segera bisa berbicara. "Orang tua, terutama ibu harus telaten menuntun anaknya bisa sembuh dari tuna rungu. Karena ibu yang setiap hari bersama anak," kata Khoiriyatul yang juga menjadi pembicara di even itu.
Ketika Shafa mau masuk di SD, semua guru menentang. Mereka menyarankan agar Shafa dimasukkan saja ke sekolah luar biasa (SLB). Namun ibunya ngotot bahwa dengan keterbatasan yang dimiliki, Shafa akan mampu bersaing dengan rekannya yang normal. "Alhamdulillah nilai selalu terbaik," ungkap Khoiriyatul bangga.
Pembelajaran bagi tuna rungu, imbuh Khiroyatul ada banyak metode. Di antaranya dengan pendampingan seorang ahli terapi. Namun kehadiran therapist ini tidak banyak membantu karena intensitas pertemuan dengan penderita sangat minim. Justru orang tua yang besar pengaruhnya pada perkembangan keberhasilan untuk sembuh. Untuk merangsang pendengaran, Khoiriyatul biasanya menjatuhkan berbagai benda dengan keras. Misalnya piring, gelas, besi, atau apa saja yang ada di rumah. Dari situ anak lama kelamaan akan mengenal suara. "Tentu juga dibantu dengan alat dengar akan lebih cepat," imbuh istri dari Royke M. Rozak ini.
Setelah anak kenal suara, lambat laun dikenalkan dengan pengucapan huruf. Untuk mengelakan satu huruf saja, harus diajari selama ratusan ribu kali untuk mengucp. "Prosesnya memang lama dan itu yang saya lakukan pada Shafa. Sebab anak seperti ini tidak normal," kenang dia.
Pengelola Rumah Bermain Kak Dea, Nenny Fitriyah menjelaskan, lembaga ini terinspirasi dari salah satu orang tua yang memiliki anak tuna rungu. Ia cukup bingung bagaimana agar anaknya bisa berkumpul dengan teman sebayanya. Kalau dikumpulkan dengan anak normal, justru kasihan. "Maka didirikanlah lembaga yang khusus mendampingi anak-anak yang tuna rungu ini," ungkap Nenny. (abm)
Sumber: jawa pos.co.id


