Tunarungu Tak Menghambat Keinginan untuk Menjadi Model
Tunarungu Tak Menghambat Keinginan untuk Menjadi Model
Posisi tubuh proporsional dengan hentakan kaki yang pasti sambil melihat condong tubuh melangkah ke depan. Tiba di posisi paling ujung, Ikram masih menoleh ke kaca. Kali ini bukan untuk memerhatikan keseimbangan tubuh, namun membaca gerak bibir instruktur. Secara fisik, Ikram tak jauh berbeda dengan anak-anak lain. Bahkan, ia memiliki kelebihan dengan postur tubuhnya sebagai seorang model cilik.
Nama lengkapnya Fadhil Dzil Ikram Syah. Di balik kesempuranaan fisiknya, ternyata Ikram memiliki kekurangan. Ia kehilangan suaranya sejak balita.Ketika instruktur memberikan kesempatan bagi Ikram untuk “membaca” apa yang ia katakan. Ikram cepat tanggap. Meski komunikasi mereka tak seperti teman-temannya yang normal, namun Ikram bisa menangkap apa yang instruktur perintahkan. Bahkan sesekali Ikram juga saling bercanda dengan teman-temannya.
Tunarungu tak membuat Ikram putus asa. Bocah kelahiran 20 Agustus 2001 ini tetap optimis memandang masa depannya. Tak lekas iri lantas mengasingkan dari teman-temannya. Dengan pede ia berlenggak-lenggok layaknya model di panggung catwalk. Menurut sang Mama, Eis Faridhatul Musyajaroh ST, menjadi model adalah keinginan Ikram sendiri.
Berawal dari Spanduk
Keinginan kuat Ikram untuk mengasah kreativitasnya di dunia catwalk berawal dari ketidaksengajaan.
Sang Mama, saat mengantar jemput Ikram sekolah di kelas dasar III SLB Melati Pasar 9 Tembung, selalu melewati spanduk Andika Production (AP). Menurut Eis, mata Ikram tak pernah lepas dan sesekali mengintip suasana dalam ruangan. "Dia kasih isyarat dengan tangan kalau dia mau difoto," ungkap Eis.
Melihat keinginan besar yang ada dalam diri anaknya, sekitar satu tahun lalu, Eis membicarakannya dengan sang suami. Besoknya, Ikram dibawa ke AP. Eis melanjutkan, begitu sampai, Ikram terlihat bahagia sekali. Dia berjalan kesana-kesini mengitari ruangan ini tempat para modelling beraksi.
"Ketika dibawa ke sini (Andika Production), saya sempat lemah dan tak semangat karena kekurangan yang ada dalam diri Ikram. Tapi kata Pak Andika, merangkul Ikram menjadi model adalah tantangan buat mereka," terang Eis.
Pada mula belajar model, Ikram sempat mengalami kesulitan beradaptasi. Maklum, semua model yang dibina AP tak punya kekurangan fisik. Mereka ganteng dan cantik-cantik. Tanpa ada satu kekurangan. Di sinilah peran Eis sebagai ibu kembali ditantang dengan kondisi putra sulungnya.
Kemana-mana Eis mendampingi Ikram hingga bisa dibilang, Eis adalah bibirnya Ikram. Sebuah ikatan batin antara ibu dan anak. Bahkan, apa yang dicari dan diinginkan Ikram, jauh sebelum ia meminta dengan bahasa isyarat, Eis sudah tahu Ikram maunya apa.
Satu tahun sudah, dengan susah payah Eis menjadi penghubung komunikasi antara Ikram dan instrukturnya. Hingga sekarang, Ikram sudah beberapa kali memenuhi undangan manggung bersama teman-teman model yang lain seperti di Millenium Plaza, Hairos, dan Deli Plaza.
Bukan hanya itu, teman-teman dan para instruktur pun sudah sangat terbiasa dengan kekurangan bocah bermata bulat ini. Hingga kini, Ikram bermain seperti biasa dan menjalani hidupnya layaknya anak-anak normal lain. Pembeda antara mereka hanyalah suara.
Sempat Koma dan Lumpuh
"Padahal waktu lahir, dia nangis..suaranya keras. Tapi masuk usia enam bulan, kami heran, kok Ikram bergeming tiap dipanggil. Terus gak pernah bersuara," kata Eis menceritakan kondisi kisah buah hatinya itu hingga kehilangan suaranya.
Seiring perjalanan waktu, satu tahun tetap tidak ada perubahan. Eis dan suami kemudian membawa Ikram menjalani pemeriksaan dan pengobatan ke Profesor Hembing di Jakarta, ketika itu mereka masih tinggal di Pulau Jawa. Empat tahun lalu, saat sang suami pindah tugas ke Medan, Eis dan keluarga, termasuk Ikram pindah ke Medan.
Oleh Profesor Hembing, Ikram dianjurkan menjalani terapi akupuntur. Tak juga ada perubahan terhadap suaranya, Ikram lalu diberi terapi bicara. Terapi ini dijalaninya dua tahun. Eis pun sadar, Ikram benar-benar telah kehilangan suaranya. Mengikuti terapi dilakukan tak kurang dari dua tahun, supaya Ikram percaya diri menjalin keakraban dengan teman-temannya dan tak mengasingkan diri. Terapi itu juga dilakukan agar Ikram bisa mandiri dengan kekurangan yang ia punya.
"Sebelumnya Profesor Hembing juga mengklaim kalau Ikram autis dan hiperaktif," sebut Eis lagi. Tiap malam, Ikram tidurnya lama. Bahkan pukul 4 subuh ia akan minta jalan-jalan keluar rumah, minimal seputaran rumah mereka baru Ikram bisa tidur. Eis juga bilang, Ikram ketika itu memiliki emosi yang labil, suka mukul dan pemarah. Ikram kecil bagai hidup di dunianya sendiri.
Sejak menjalani terapi, berangsur-angsur keadaan Ikram membaik. Namun, tetap saja pita suaranya tak pernah bergetar. Tak putus asa, Eis kemudian membawa Ikram menjalani pengobatan dari medis hingga obat-obatan tradisional. Pertama sekali ia dibawa ke RS Cipto Mangunkusumo Jakarta. Sayang hasilnya tak juga ada perubahan.
Bahkan ketika usianya 2,5 tahun, Ikram koma dan lumpuh sesaat gara-gara obat bius yang diberikan dokter ketika memeriksa bagian dalam telinganya. Eis dan sang suami bingung. Pasalnya, Ikram lumpuh seketika. Badannya tak bisa digerakkan. Dicubitpun, rasanya tak terasa.
Sambil menangis Eis berdoa, "Ya Alloh... anakku sudah tunarungu, jangan lagi dia lumpuh...". Seharian Eis menemai Ikram di rumah sakit. Makan dan minum pun ia tak sanggup menyaksikan Ikram berbalut selang dengan bagian-bagian tubuh tertancap jarum infus. "Bagaimana bisa hati saya tenang," sebut Eis.
Lebih dari 24 jam Ikram tak juga bisa menggerakkan badannya. Tak bisa tidur Eis melihat buah hatinya menderita. Waktu berlalu hingga pada besok siang, Ikram mulai menampakkan tanda-tanda bisa bergerak lagi. "Saya langsung sujud syukur. Ikram mulai menggerakkan kakinya. Dan memberi isyarat jempol. Artinya, kakinya bisa berfungsi lagi," kata Eis haru.
Jago Matematika
Berkali-kali menjalani masa sulit, Ikram mulai bangkit. Di sekolah, Ikram lancar berbaur dengan teman-temannya. Bahkan rapornya pun terbilang bagus. Satu saja mata pelajaran yang nilainya delapan, Ikram bakal protes dan memberikan isyarat angka delapan itu jelek.
"Terutama untuk pelajaran Matematika, Ikram cepat sekali menangkap. Guru-gurunya juga bilang begitu," sebut Eis lagi. Sebentar dijelaskan, Ikram langsung paham. Bidang studi Bahasa Arab, Ikram juga jago. Hari-hari dijalaninya dengan positif. Setiap hari ia berangkat ke sekolah, belajar dari mulai pukul 8 pagi hingga selesai pukul 11 siang. Bersama dengan sang adik, Firman Syah, Eis setia menunggu anaknya.
Beruntung sekali Ikram memiliki seorang adik, Firman Syah, yang juga mengerti kondisi dia. Saat orang-orang mengajak Ikram bicara, dengan polos Firman menjelaskan, "Bang Ikram gak bisa ngomong, jangan ditanya...," kata Eis.
Eis berharap, kelak Ikram bisa mandiri dengan kekurangannya. "Saya takut nanti kami tak ada, bagaimana dengan Ikram. Siapa yang jaga. Itu yang bikin saya sedih," sebut Eis. Itu sebabnya, Papanya ikram juga ingin anaknya belajar bela diri. Dengan tubuh yang proporsional dan kemampuan yang cepat menguasai gerakan, Ikram diyakini bisa. "Tapi karena Ikram sudah memilih ke model, jadwal untuk itu tak bisa dikompromikan," kata Eis lagi. Eis berharap, menjadi model akan bisa menempa percaya diri Ikram, dan ia bisa mempersiapkan hidup dari sana.
Sumber: Harian global.com


