Pusat Terapi Anak
Poling
Apakah Situs ini Bermanfaat bagi Anda?
 

Jangan Malu Punya Anak Autis

Laporan HENNY ELYATI, Pekanbaru
This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it

Seorang remaja laki-laki menghampiri. Tangannya terulur dan memberi salam yang dilanjutkan dengan tos. Tidak cukup sekali dia melakukannya, salam dan tos kembali diberikan. Dia adalah Zaky Khairi, putra Hj Rovanita Rama SH MH, pemilik Pusat Pelatihan Terapi Anak Mandiri (PPTAM).

SEPINTAS lalu, Zaky seperti anak normal lainnya. Namun setelah diperhatikan lebih seksama, ada yang berbeda dengan diri Zaky. Dia tidak bisa berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang-orang di sekelilingnya. Awalnya Riau Pos sempat terpana dan bingung melihatnya ketika salam perkenalan baru dilakukan.

Riau Pos mengenal Zaky, Rabu (31/3) lalu saat mengunjungi Pusat Pelatihan Terapi Anak Mandiri (PPTAM) di Jalan Bangau Nomor 31, Sukajadi.

Berdasarkan penuturan ibunya, Zaky mengalami keterbatasan motorik atau lebih dikenal dengan autis. ‘’Zaky bisa seperti ini karena dia menjalani terapi sehingga dia bisa berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang-orang di sekelilingnya,’’ ujar Rovanita.

Bertolak dari pengalamannya memiliki anak autis, dia pun mendirikan Pusat Pelatihan Terapi Anak Mandiri. ‘’Pusat terapi ini, saya buat agar peralatan Zaky yang kita beli tidak sia-sia dan bisa dimanfaatkan bagi anak-anak autis lainnya. Tidak hanya menyediakan fasilitas, guru dan tenaga terapis benar-benar pakar di bidangnya sehingga terapi yang diberikan tidak salah. Bahkan sebelum dilakukan terapi, harus ada terlebih dahulu hasil pemeriksaan dokter spesialis,’’ kata Rovanita.

Pemeriksaan awal dimaksud berupa dokter spesialis anak, spesialis THT, spesialis syaraf, dokter rehab medik, psikiater, psikolog dan lain-lain. Dari sini diketahui assesment anak yang kemudian dilanjutkan program terapi sesuai keperluan anak dengan penilaian harian.
‘’Penilaian harian ini penting dilakukan agar diketahui bagaimana kemajuan perkembangan anak. Ini sebagai evaluasi mana yang perlu diperbaiki dan mana yang lebih ditingkatkan lagi. Kehadiran orangtua saat terapi memiliki perananan cukup besar terhadap anak autis,’’ katanya.

Di pusat terapi ini, ada sekitar 80 anak yang menjalani terapi. Tiap hari, anak diterapi hanya satu jam dan satu tenaga terapis. ‘’Sebenarnya ini tidaklah efektif, namun tidak semua orangtua mampu mengalokasikan anggaran cukup besar untuk terapi ini. Tetapi daripada tidak diterapi, kelainan motorik anak semakin parah nantinya,’’ tuturnya.

Di beberapa ruang terapi, ada beberapa anak yang tidak peduli dengan lingkungan dan hanya mau berinteraksi dengan guru atau tenaga terapisnya. Ada anak yang tidak ingin dilihat keluarganya saat terapi, bahkan ada anak yang ingin makan makanan temannya. Jika tidak diberi anak tersebut marah dan melihat ke mana makanan tersebut disimpan. Ketika diajak bicara, si anak justru mulai memukuli dirinya sendiri.

Tampilkan Kepiawaian Anak-anak Autis
Memperingati Hari Peduli Autis se-Dunia yang jatuh pada 2 April, Pusat Pelatihan Terapi Anak Mandiri (PPTAM) bekerja sama dengan Dinas Pendidikan Riau, Pusat Data dan Informasi Perempuan Riau (Pusdatin Puanri), BKKKS Riau, Ikatan Keluarga Wartawan Indonesia (IKWI) mengadakan berbagai kegiatan untuk anak-anak autis yang dipusatkan di Gedung Daerah, Sabtu (3/4).

Kegiatan tersebut berupa penampilan anak-anak autis dalam bidang seni seperti memainkan angklung, fashion show, talk show grup sibling, peluncuran buku ‘’Zaky My Autistic Brother’’ yang ditulis Atikah Haira Bagawan (kakak kandung Zaky yang masih duduk di bangku SMA di Jakarta), penampilan Zaky main drum bersama guru musik sekolahnya di SMP Cendana Rumbai, pengukuhan pengurus Parent Support (orangtua anak-anak autis), seminar membantu penyesuaian diri saudara kandung anak spektrum autistik oleh Dr Adriana S Ginanjar MSi yang juga memiliki anak autis.

Pada kegiatan ini dihadiri Ketua BK3S Riau, Dra Hj Septina Primawati Rusli MM, anggota DPRD Riau sekaligus Ketua Special Olympic Indonesia (SOIna Riau), Hj Iwa Sirwani Bibra, Kadis Pendidikan Nasional Riau, Prof Ir Irwan Effendi MSc, Ketua BKOW Riau, Novi Syarif, Ketua IKWI Riau, Bysita Helmi Burman SE, Ketua Harian Pusdatin Puanri Rahmita dan pengurus organisasi perempuan lainnya serta tokoh masyarakat dan mahasiswa psikolog Unri.

Ketua BK3S Riau, Dra Hj Septina Primawati Rusli MM mengatakan, hingga kini di Indonesia, perhatian terhadap anak penyandang autis belum optimal terutama di bidang pendidikan. Oleh karena itu, pemerintah perlu mengembangkan sekolah inklusi di setiap sekolah umum yang dapat mendidik anak-anak autis.

‘’Masyarakat dan pemerintah perlu memberikan kesempatan lebih luas bagi anak autis untuk mendapat pendidikan yang optimal karena mereka juga memiliki hak yang sama dengan anak-anak normal lainnya,’’ katanya.

Sebagaimana diketahui bersama, autis bukanlah suatu penyakit tetapi kelainan perkembangan pada anak disebabakan faktor genetika dan kontaminasi logam berat seperti merkuri dan timbal yang mengganggu fungsi otak. Di Indonesia, jumlah anak autis terus bertambah setiap tahunnya. Penanganan autisme memerlukan usaha yang lebih serius, global, lintas sektor dan lintas negara. Media dan industri komunikasi dapat menyebarkan informasi yang mendorong kepedulian masyarakat terhadap autisme, terutama sosialiasisi yang benar tentang autis sehingga tidak lagi ada pandangan negatif dan penanganan tidak tepat terhadap anak-anak autis.

‘’Kami berencana akan membawa anak-anak autis ini field trip ke Kantor Gubernur, Perpustakaan Soeman Hs dan DPRD Riau,’’ sebut Septina.

Sementara Kadis Pendidikan Riau, Prof Ir Irwan Effendi mengatakan, dengan adanya Pusat Pelatihan Terapi Anak Mandiri ini sudah membantu program pemerintah dalam mencerdaskan bangsa. Pendidikan inklusi itu harus ada di sekolah-sekolah. Di mana pendidikan inklusi ini harus mau melayani anak-anak berkebutuhan khusus.

‘’Perlakuan terhadap anak-anak berkebutuhan khusus ini janganlah dibuat khusus pula. Karena si anak nantinya akan merasa diperlakukan berebda dengan teman-temannya dan justru ini akan semakin memperburuk keadaan si anak,’’ sebut Irwan.

Menurut Pimpinan Pusat Pelatihan Terapi Anak Mandiri, Hj Rovanita SH MH, kegiatan ini memiliki tujuan dan maksud khusus, selain ingin mengajak masyarakat untuk peduli dengan anak autis, juga ingin membuktikan bahwa anak autis juga bisa berprestasi. Peran orangtua sangat diperlukan dalam membentuk prilaku anak spesial ini agar bisa bergaul dengan cara dan perilakunya.

‘’Acara ini kita kemas ingin merubah imej, anak autis bukanlah anak cacat, melainkan anak yang disebut dengan berkeperluan khusus dengan penanganannya khusus pula. Kita ingin mengajak masyarakat untuk lebih peduli dengan anak berkeperluan khusus ini atau penyandang autis. Jika ada yang menyebutkan, kalau anak ini cacat itu salah, karena itu kesannya tidak baik dan tidak mendidik,’’ ujar Rovanita.

Gejala Diagnosis Terapi Pengobatan Diet
Autis merupakan gangguan perkembangan neurobiologis yang berat, yang timbul dalam 3 (tiga) tahun pertama kehidupan anak. Gejala-gejala bisa terlihat sejak beberapa hari/pekan setelah bayi lahir, atau beberapa bulan kemudian setelah tahap-tahap perkembangan yang seharusnya ada tetapi tidak dicapai balita yang bersangkutan.

Ada juga anak-anak yang mula-mula perkembangannya tampak normal, tetapi kemudian terjadi kemunduran pada umur 18 bulan, yaitu berbagai kemampuan yang tadinya sudah ada, misalnya sebelumnya anak sudah berbicara sepatah-dua-patah kata, tetapi kemudian menghilang.

Mereka yang sudah biasa melihat/berhubungan dengan penyandang autis dapat mendeteksi/mencurigai seorang anak merupakan penyandang autis paling tidak pada usia anak sekitar 2-3 tahun. Para profesional yang sudah biasa menangani autis dikatakan sebagai suatu kelainan yang tanpa harapan untuk sembuh. Namun saat ini (yang dimulai sejak paling tidak 1-2 dekade terakhir ini), dengan terapi dan penanganan yang optimal, semakin banyak penyandang Autis yang “sembuh” atau menuju kesembuhan.

Autisme adalah suatu kondisi mengenai seseorang sejak lahir ataupun saat masa balita, yang membuat dirinya tidak dapat membentuk hubungan sosial atau komunikasi yang normal. Akibatnya anak tersebut terisolasi dari manusia lain dan masuk dalam dunia repetitive, aktivitas dan minat yang obsesif. (Baron-Cohen, 1993). Menurut Power (1989) karakteristik anak dengan autisme adalah adanya 6 gangguan dalam bidang; interaksi sosial, komunikasi (bahasa dan bicara), perilaku-emosi, pola bermain, gangguan sensorik dan motorik perkembangan terlambat atau tidak normal.

Gejala ini mulai tampak sejak lahir atau saat masih kecil.
Autis muncul sebelum usia 3 tahun dan ditunjukkan adanya hambatan dalam interaksi sosial, komunikasi dan kemampuan bermain secara imaginatif serta adanya perilaku stereotip pada minat dan aktivitas. Aspergers Syndrome atau hambatan perkembangan interaksi sosial dan adanya minat dan aktivitas yang terbatas, secara umum tidak menunjukkan keterlambatan bahasa dan bicara, serta memiliki tingkat intelegensia rata-rata hingga di atas rata-rata.

Parah atau ringannya gangguan autisme sering kemudian di-paralel-kan dengan keberfungsian. Dikatakan oleh para ahli bahwa anak-anak dengan autisme dengan tingkat intelegensi dan kognitif yang rendah, tidak berbicara (nonverbal), memiliki perilaku menyakiti diri sendiri, serta menunjukkan sangat terbatasnya minat dan rutinitas yang dilakukan maka mereka diklasifikasikan sebagai low functioning autism. Sementara mereka yang menunjukkan fungsi kognitif dan intelegensi yang tinggi, mampu menggunakan bahasa dan bicaranya secara efektif serta menunjukkan kemampuan mengikuti rutinitas yang umum diklasifikasikan sebagai high functioning autism. Dua dikotomi dari karakteristik gangguan sesungguhnya akan sangat berpengaruh pada implikasi pendidikan maupun model-model treatment yang diberikan pada para penyandang autisme.


Ada Kebanggaan Tersendiri
Bagi Rini Imron SIP, Humas Parent Support, memiliki anak autis tidak serta merta membuatnya malu justru di satu sisi membuatnya bangga bisa menjadi orangtua yang spesial. ‘’Karena menjadi orangtua anak autis itu benar-benar dituntut kesabarannya. Di sinilah kesabaran kita benar-benar teruji,’’ katanya.

Pola pendidikan yang diajarkannya pada ketiga anaknya tidaklah berbeda. Hanya saja, anak-anak lain diberi pengertian bahwasanya, saudaranya agak berbeda dengan dirinya. ‘’Perhatian dan perlakuan sama diberikan. Tidak ada yang berbeda. Justru saudaranya yang lainlah yang turut mendukung dan memberikannya motivasi agar bisa seperti anak-anak normal lainnya,’’ kata wanita yang memiliki dua anak autis ini.

Disinggung mengenai perasaan, Rini Imron mengaku terkadang merasa sedih. ‘’Sedih juga bila mengingat bagaimana nanti masa depan anak-anak, karena autis harus dijaga dan diperhatikan. Bila penanganannya salah justru akan memperburuk kondisinya. Saya sendiri pernah kehilangan anak beberapa jam karena lepas dari pengawasan,’’ tuturnya dengan mata berkaca-kaca.

Sementara Zaky Khairi dengan terapi yang dijalaninya secara rutin sejak usia 2 tahun di Singapura membuatnya berprestasi di bidang SOIna dengan beragam medali emas, perak dan perunggu yang dimilikinya tidak hanya secara nasional tapi juga internasional.
(esi)

Sumber: Riaupos.com

 
Peduli Autis
Tumbuh Kembang