Kelas Anak-Anak Berkelainan Khusus
Restu, 12, dengan diantar ayah dan ibunya mendatangi Child Care Center (CCC) di Jl Jombang Raya Kav 148 Bintaro, Tangerang, kemarin. Sudah dua bulan ini, tiga kali dalam seminggu ia dating ke CCC untuk mendapatkan terapi khusus guna mengobati kelainan bawaan yang diderita sejak kecil. Restu menaiki tangga menuju ruangan khusus di lantai dua klinik dibimbing Sriharnayati, 40, terapis. Rencananya Restu mendapat pelajaran mengidentifikasi anggota tubuh.
Restu adalah pengidap mongolisma atau lebih dikenal dengan down’s syndrome. Penderita sindrom ini biasanya, memiliki tingkat kecerdasan lebih rendah daripada anak umumnya. Karena itu, anak-anak seperti Restu membutuhkan penanganan khusus.
Meski memiliki kelainan, Restu beruntung karena dilahirkan di keluarga yang lumayan berkecukupan sehingga tidak terkendala soal dana. Tidak seperti M Febriansyah, 6, penderita attention deficit hyperactivity disorder (ADHD). Ekonomi keluarganya paspasan.
Di hari yang sama, didampingi Yunimar, 48, ibunya, Febri mendatangi CCC mengikuti kelas. Febri cukup malang. Setahun setelah lahir, ayahnya meninggal dunia. Pada usia tiga tahun, anak bungsu dari tiga bersaudara itu menderita ADHD.
Penderita ADHD sulit untuk focus pada satu hal, hiperaktif dan suka bertindak menurut gerak hatinya (impulsif). Febri dikeluarkan dari taman kanak-kanak pada usia lima tahun karena dianggap nakal dan hiperaktif.
Ibu tiga anak itu banting tulang demi Febri. “Saya enggak mau menyerah. Saya mau anak saya seperti orang lain. Saya lakukan semua untuk Febri,” kata Yunimar yang membuka kantin di kantor PLN Pusat.
Yunimar merasakan tempat penanganan anak seperti CCC sangat membantu meringankan bebannya dalam mengasuh Febri. “Lumayan murah meskipun kami hidup paspasan,” ujarnya.
Karena alasan perekonomian, CCC memang meringankan biaya lebih murah kepada Febri. “Saya membuka klinik ini untuk membantu menormalkan kehidupan mereka (anak-anak),” kata Handi Andrian, pendiri CCC.
Andrian mendirikan CCC karena dilatarbelakangi anaknya yang juga menderita autis ringan. Ia mengaku miris atas minimnya perhatian pemerintah terhadap anak-anak berkelainan khusus.
“SLB saja tidak cukup. Karena satu anak harus ditangani seorang guru khusus. Di SLB, satu guru bisa menangani hingga 20,” cetus Andrian.
Semenjak PBB menetapkan 2 April sebagai hari peduli autisme sedunia tiga tahun lalu, Indonesia selalu ikut merayakan. Namun ironisnya, perayaan tiap tahun itu tidak dibarengi dengan peningkatan usaha pemerintah menangani anak-anak berkelainan khusus.
Padahal, anak-anak seperti Restu dan Febri, meski sedikit lain, juga merupakan asset bangsa yang harus mendapat perhatian. (*/J-1)
Sumber: Media Indonesia


