Autis, Kami Belum Bisa Mandiri
Empat jam Aura bermain di kursi itu. Dia tak kunjung beranjak. Tanpa makan atau minum.
Hadi Suprapto
VIVAnews - Tak banyak kata yang keluar. Aura (14), bukan nama sebenarnya, hanya duduk di kursi sambil memainkan beberapa mainan di Sekolah Asrama Imaculata, Harapan Indah, Bekasi. Ia tak banyak bertingkah seperti teman-teman sekelas.
Waktu menunjukkan 14.00. Sudah empat jam Aura bermain di kursi itu. Dia tak kunjung beranjak. Tanpa makan dan minum. Lapar, itu yang mungkin dirasakannya. Tapi lagi-lagi ia tak mau beranjak dari tempat duduk.
Imaculata Umiati, kepala sekolah di asrama itu membiarkannya. Ia ingin tahu reaksi bagaimana Aura mengatasi lapar. Alangkah kagetnya, anak itu ternyata mencongkel-congkel kursi dan memakan kayu itu.
Tak banyak yang bisa dilakukan orang dengan anak ini, selain mengajari kemandirian dan berperilaku normal. Dengan sikap mandiri, Aura bisa mencari makanan yang biasa diletakkan di laci masing-masing siswa. Tanpa dia harus memakan potongan-potongan kayu dari kursi.
Ima mengatakan, penyebab Autis adalah multifaktor. Para ahli banyak memberi teori mengenai penyakit ini. Namun belum ada kepastian penyebabnya.
Autis adalah gangguan perkembangan pervasif pada anak yang ditandai dengan gangguan dan keterlambatan dalam bidang kognitif, bahasa, perilaku, komunikasi, dan interaksi sosial.
Ima mengatakan, saat perkembangan janin dalam kehamilan merupakan potensi penyakit ini terjadi. Pertumbuhan dan perkembangan otak sangat pesat terjadi pada periode ini, sehingga segala gangguan sangat berpengaruh. Gangguan pada otak inilah nantinya akan mempengaruhi perkembangan dan perilaku anak, termasuk risiko terjadinya autis.
Infeksi saluran kencing, panas tinggi, dan depresi juga turut andil dalam peyakit ini. Survei yang dilakukan Wilkerson dalam bukunya, Perinatal Complications as Predictors of Infantile Autism, telah melakukan penelitian terhadap riwayat ibu hamil pada 183 anak autis dan 209 anak tidak terkena autis. Hasilnya, sebagaian ibu dari anak autis saat hamil sempat terkena infeksi saluran kencing, panas tinggi, dan depresi.
Karena itu, Ima mengatakan, saat hamil ibu-ibu diharapkan menghindari makanan instan, kosmetik yang mengandung mercuri, obat-obatan, dan antibiotik yang berlebihan. Selain itu, jauhi dari makanan yang tercemar logam berat. "Ini bukan pencetus atau penyebab autis, tapi andil," katanya.


